Kaum Muda dan Ironi Sejarah Mereka
Orang muda adalah mahluk tepian zaman. Mereka tumbuh besar dalam era sejarah yang akan segera ditinggalkannya, tetapi tidak sepenuhnya menguasai zaman baru untuk tumbuh berkembang sebagai mahluk dewasa sampai ajal menjemput mereka. Surat Kartini kepada sahabat penanya Estela H. Zeehandelaar pada 25 Mei 1899 memberikan ilustrasi ini. “Hati saya menyala-nyala karena semangat yang menggelora akan […]

Orang muda adalah mahluk tepian zaman. Mereka tumbuh besar dalam era sejarah yang akan segera ditinggalkannya, tetapi tidak sepenuhnya menguasai zaman baru untuk tumbuh berkembang sebagai mahluk dewasa sampai ajal menjemput mereka.

Surat Kartini kepada sahabat penanya Estela H. Zeehandelaar pada 25 Mei 1899 memberikan ilustrasi ini. “Hati saya menyala-nyala karena semangat yang menggelora akan zaman baru”, tulis Kartini. Namun ia segera menyadari gelora semangat zaman baru itu belum sepenuhnya memberi ruang bagi kebebasan yang ingin diraihnya sebagai perempuan terpelajar di Hindia-Belanda awal abad ke-20. “Masa itu pasti datang, saya tahu, tetapi baru tiga, empat keturunan sesudah kami” (Sutrison, 1985:1). Sampai kematiannya pada usia 25 tahun, ia tetap belum menghirup zaman baru yang mengisi era kehidupan kaum muda saat itu. 

***

Setiap masyarakat sudah pasti memiliki kisah tersendiri tentang konflik dan pertentangan generasional di dalam kehidupannya. Di dalamnya juga terdapat beragam konstruksi tentang posisi kaum muda dan peran sejarah mereka. Popularitas konsepsi “generasi milenial” bagi mereka yang lahir pada dekade 1980an memberi petunjuk bahwa ide tentang kaum muda dan peran sejarah mereka bukan sekedar konsep unik dalam pengalaman Indonesia. Ia adalah jargon global di bawah budaya kapitalisme mutakhir abad ke-21, yang memberi kesan ruang gerak tak terbatas generasi tersebut.

Dalam kenyataan, segala sesuatu pada akhirnya ditentukan oleh seberapa tebal dompet dalam saku generasi tersebut. Secara sosial dan dalam hitungan statistik, hanya sedikit yang bisa menikmati gambaran ideal konsepsi generasi milenial. Sebagian besar, terutama mereka yang miskin dan tinggal jauh dari pusat kemajuan, tetap dipaksa segera mencari siasat bertarung di pasar tenaga kerja dan mengisi lapisan mayoritas kaum pekerja dengan pendapatan yang cukup menyambung kehidupan sehari-hari.

Angka-angka adalah kenyataan dingin yang menyakitkan. Mereka yang merasa menjadi bagian dari generasi milenial boleh bermimpi sebagai pembawa obor perubahan baru yang menciptakan sejarah masyarakat mereka. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa perubahan sejarah bukan sekedar perbedaan generasional seperti yang kerap muncul dalam media massa. Terdapat kenyataan sosial, ekonomi, politik dan budaya yang jauh lebih kompleks dibanding sekedar persoalan perbedaan generasional tersebut.

Sejak periode kehidupan Kartini sampai sekarang, persoalan yang dihadapi sama saja. Kaum muda dituntut segera memasuki kehidupan dewasa dengan tingkat persaingan dengan beban yang semakin hari menjadi semakin berat. 

Orang-orang muda zaman sekarang mungkin tidak lagi bisa bermimpi memiliki rumah luas dengan kebun dan taman seperti generasi terdahulu mereka. Sebagai ganti, mereka dibiasakan untuk menerima kenyataan untuk tinggal di dalam ruang seluas 36 meter persegi sebagai kelaziman hidup masa kini. Sedikit gambaran tentang ruang gerak mondial dengan kemudahan transportasi modern, dan perangkat gadget mutakhir menjadi bumbu penyedap yang memberi kesan bahwa kehidupan mereka jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Namun semua sekedar bumbu penyedap saja.

***

Ketika pada Mei 1968 sejumlah mahasiswa Universitas Sorbone di Paris turun ke jalanan  menyerukan legalitè, libertè, dan sexualitè, dan menggulirkan pemogokan umum di Prancis, kepustakaan ilmu sosial dan politik dekade 1970an dan 1980an segera dipenuhi dengan gambaran dan analisis tentang konflik generasional dalam proses perubahan sejarah.

Aksi kaum muda di universitas Sorbone dianggap sebuah titik baru perubahan yang menandai sebuah revolusi sosial di negara-negara industri maju yang berada dalam penghujung siklus kemakmuran pasca Perang Dunia II di benua Eropa. Siklus krisis kapitalisme global yang mencapai puncak pada pertengahan dekade 1975 telah dirasakan sejak awal di kalangan muda yang berbaris menuju ketidakpastian sebagai “cadangan tenaga kerja baru” yang harus puas dengan upah yang lebih rendah dan prospek kehidupan masa depan yang belum pasti. Gejolak itu mendapat gaungnya di negara-negara maju lain seperti Amerika Serikat yang terkenal dengan istilah revolusi bunga dalam gelombang gerakan hak-hak sipil.

Kisah tersebut, dan kepustakaan tentang tema itu yang berkembang kemudian, menguatkan bayang-bayang mitos tentang keutamaan kaum muda dalam perubahan sejarah. Di Tiongkok kita mengenal sosok “Garda Merah” yang membuat kalang kabut rezim komunis di negeri tersebut. Kim Il Sung menggelorakan semangat Juche yang menempatkan kaum muda sebagai garda depan dan pemimpin perubahan dalam masyarakat. Di Indonesia, gambaran itu dibangun dengan menempatkan kaum muda dalam momen sakral Sumpah Pemuda 1928 yang menegaskan tekad membentuk bangsa, bahasa dan tanah air yang satu.

Seorang pengamat tentang Indonesia, Benedict Anderson, bahkan mengabadikan kiprah para pemuda dalam bukunya tentang pengalaman revolusi Indonesia pada masa pendudukan Jepang sampai terbentuknya negara republik. Terjemahan Indonesia buku tersebut menampilkan judul Revolusi Pemuda yang seolah ingin menegaskan bahwa revolusi Indonesia adalah karya utama para pemuda. Anderson sendiri menegaskan kiprah tersebut sebagai suatu fenomena khas sejarah Indonesia yang berbeda dengan konsepsi gurunya, George McTurnan Kahin, yang menggambarkan revolusi Indonesia dalam alur menyerupai pengalaman revolusi Prancis dengan kepeloporan kelas menegah terdidik di Indonesia. 

Bagaimanapun, kiprah pemuda dalam sejarah Indonesia lebih banyak tampil dalam mitos yang dibangun atas dasar kepentingan negara baru mengukuhkan proses nation-building dibanding kenyataan sejarah yang sesungguhnya. Kaum muda dan gelora semangat perubahan yang lekat dengan sosok mereka pada akhirnya tidak lebih menjadi sekedar alat yang digunakan sesaat, untuk kemudian ditinggalkan setelah tujuan-tujuan para pemimpin (yang sudah tidak lagi muda) tercapai.

***

Dalam keseluruhan cerita itu, kaum muda seringkali ditempatkan dalam poros utama pergerakan zaman. Mereka menjadi pasukan yang bergerak di garis depan menghidupi elan perubahan zaman. Bagaimanapun, orang-orang muda itu pada akhirnya akan menjadi tua juga. Cepat atau lambat mereka dibuat terkejut dengan arus perubahan yang dapat mereka rasakan, tetapi tidak dapat mereka pahami mengapa dan bagaimana hal itu terjadi.  

Melihat catatan sejarah terkait keberadaan kaum muda dalam masyarakat pada akhirnya  satu pokok penting yang layak untuk digarisbawahi. Meski serangkaian kisah di atas menyampaikan bahwa bahwa kaum muda menjadi enerji utama gerak perubahan zaman, bagaimanapun catatan sejarah dunia belum menunjukkan keberadaan revolusi kaum muda. Belum pernah ada sebuah sejarah yang menghadirkan “kediktatoran pemuda” yang menentukan arah perubahan sosial, politik, budaya dan ekonomi suatu masyarakat. Ini memang paradoks konsepsi politik dan budaya yang menempatkan ketegangan antar generasi sebagai titik tolak analisis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *